Kegiatan Madrasah

Merawat Tradisi, Meneladani Nabi: Semarak Maulid Nabi PAUD–RA–MI–MTs Sultan Agung Kalipoh untuk Generasi Berkarakter dan Berperadaban

Merawat Tradisi, Meneladani Nabi: Semarak Maulid Nabi PAUD–RA–MI–MTs Sultan Agung Kalipoh untuk Generasi Berkarakter dan Berperadaban

Merawat Tradisi, Meneladani Nabi: Semarak Maulid Nabi PAUD–RA–MI–MTs Sultan Agung Kalipoh untuk Generasi Berkarakter dan Berperadaban
Kegiatan Madrasah

Merawat Tradisi, Meneladani Nabi: Semarak Maulid Nabi PAUD–RA–MI–MTs Sultan Agung Kalipoh untuk Generasi Berkarakter dan Berperadaban

22 Aug 2026 Ditulis oleh: Administrator Dibaca: 128 kali
Merawat Tradisi, Meneladani Nabi: Semarak Maulid Nabi PAUD–RA–MI–MTs Sultan Agung Kalipoh untuk Generasi Berkarakter dan Berperadaban

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini terasa begitu berbeda di lingkungan PAUD–RA–MI–MTs Sultan Agung Kalipoh. Bukan sekadar menjadi agenda tahunan untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW, peringatan kali ini hadir dengan suasana yang lebih meriah, hangat, dan penuh makna. Di balik kemeriahan panggung dan penampilan para siswa, tersimpan pesan mendalam tentang keteladanan, perjuangan, tradisi, serta pentingnya menjaga keberlangsungan madrasah sebagai ladang amal dan jariyah.

Semarak Maulid Nabi kali ini semakin hidup dengan hadirnya penampilan hadroh anak-anak MI dan MTs Sultan Agung Kalipoh. Alunan sholawat yang menggema seolah mengajak seluruh jamaah untuk kembali mengingat sosok Rasulullah SAW sebagai teladan utama dalam kehidupan.

Tidak hanya hadroh, para siswa-siswi MI Sultan Agung 1 Kalipoh juga tampil memukau dengan berbagai persembahan. Anak-anak menunjukkan kreativitas, keberanian, dan bakat mereka di hadapan jamaah.

Rangkaian penampilan tersebut di antaranya pembacaan surat-surat pendek dan sholawat oleh siswa kelas 2, Tari “Kuy Hijrah” oleh kelas 3, tausiyah oleh siswa kelas 1, Tari “Rahmatan Lil ‘Alamin” oleh kelas 3, Drama Musical oleh kelas 5, serta penampilan bersama menyanyikan Indonesia Raya dan Yalal Wathon.

Setiap penampilan bukan hanya menjadi hiburan. Di dalamnya terdapat proses pendidikan karakter. Anak-anak belajar tampil percaya diri, bekerja sama, menghargai proses, mencintai agama dan tanah air, sekaligus berani menunjukkan potensi yang mereka miliki.

Namun, ada satu momen yang terasa begitu istimewa dan mengharukan. Suasana berubah ketika KH. Damiri, B.A. naik ke atas panggung untuk menyampaikan tausiyah.

Bagi sebagian jamaah, kehadiran beliau bukan sekadar seorang penceramah. Sosok KH. Damiri, B.A. adalah bagian dari sejarah panjang perjuangan pendidikan Islam di Kalipoh.

Beliau pernah mengabdikan diri di MI dan MTs Sultan Agung Kalipoh selama kurang lebih 20 tahun. Selama masa pengabdiannya, beliau tidak hanya mengajar, tetapi juga ikut membangun, merawat, dan memperjuangkan madrasah. Tidak sedikit murid yang dahulu pernah duduk di hadapan beliau, kini telah menjadi orang tua dan bahkan menjadi wali murid di madrasah.

Maka, ketika beliau hadir kembali di tengah-tengah jamaah, suasana seolah membawa semua orang kembali ke masa lalu.

Jamaah seakan mendapatkan kembali sosok guru, tokoh, sekaligus bagian dari perjalanan hidup mereka. Rasa rindu yang selama bertahun-tahun tersimpan seperti mendapatkan ruang untuk terobati.

Dahulu, ketika masih aktif mengajar di Kalipoh, KH. Damiri, B.A. juga dikenal sering berdakwah di tengah masyarakat. Beliau kerap dipanggil warga untuk mengisi tausiyah dalam berbagai kesempatan. Gaya dakwahnya yang khas bahkan telah begitu akrab di telinga masyarakat Desa Kalipoh.

Maka tidak mengherankan, ketika beliau mulai berbicara, jamaah seperti kembali mendengarkan suara yang pernah begitu dekat dengan kehidupan mereka.

Dalam tausiyahnya, KH. Damiri, B.A. tidak hanya berbicara tentang Maulid Nabi. Beliau mampu merangkai kisah perjuangan Rasulullah SAW dengan realitas kehidupan masyarakat dan perjuangan pendidikan di Kalipoh.

Beliau juga menceritakan kembali perjalanan panjang dalam ngopeni madrasah merawat, menjaga, dan memperjuangkan keberadaan lembaga pendidikan Islam agar terus hidup dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Lebih dari itu, beliau merupakan salah satu pencetus dan penggagas berdirinya MTs Sultan Agung Kalipoh. Sebagai salah satu pendiri, beliau memiliki jasa besar dalam lahir dan berkembangnya MTs Sultan Agung Kalipoh.

Kisah-kisah perjuangan masa lalu yang beliau sampaikan menjadi pengingat bahwa berdirinya sebuah madrasah tidak terjadi begitu saja. Ada keringat, pikiran, waktu, tenaga, doa, bahkan pengorbanan para pendahulu yang menjadi bagian dari sejarahnya.

Madrasah yang hari ini berdiri dan dinikmati oleh anak-anak merupakan hasil perjuangan panjang para guru, tokoh masyarakat, orang tua, dan para pendahulu yang telah mewakafkan sebagian hidupnya untuk pendidikan.

Salah satu pesan yang begitu kuat terasa adalah tentang bagaimana madrasah seharusnya dipandang bukan sekadar sebagai sebuah lembaga pendidikan.

Madrasah adalah ladang amal. Madrasah adalah ladang jariyah. Madrasah adalah bagian dari perjuangan para pendahulu.

Apa yang telah dilakukan oleh para sesepuh dan pendiri madrasah merupakan kebaikan yang perlu terus dirawat. Karena itu, generasi hari ini memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan apa yang telah dirintis oleh generasi sebelumnya.

Kebaikan orang tua dan para pendahulu tidak seharusnya berhenti pada satu generasi. Justru, tugas generasi penerus adalah menjaga, merawat, dan mengembangkan kebaikan tersebut agar terus mengalir manfaatnya.

Madrasah bukan hanya tempat anak-anak belajar membaca, berhitung, dan menguasai ilmu pengetahuan. Madrasah juga merupakan tempat menanamkan akhlak, membangun karakter, mengenalkan agama, menumbuhkan kecintaan kepada bangsa, dan mempersiapkan generasi yang mampu membawa masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik.

Hal lain yang membuat tausiyah KH. Damiri, B.A. begitu membekas adalah kepiawaian beliau dalam membingkai materi Maulid Nabi dengan keutamaan shalat berjamaah serta perjuangan menjaga madrasah.

Maulid tidak berhenti pada kisah kelahiran Rasulullah SAW. Keteladanan Nabi diterjemahkan menjadi nilai-nilai yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Mencintai Rasulullah berarti berusaha mengikuti ajarannya. Salah satunya dengan menjaga shalat dan menghidupkan shalat berjamaah.

Begitu pula dengan keberadaan madrasah. Mencintai agama tidak cukup hanya dengan mengagumi sejarah perjuangan para ulama. Kecintaan itu perlu diwujudkan melalui tindakan nyata salah satunya dengan ikut menjaga dan menghidupkan lembaga pendidikan Islam yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu. Pesan tersebut terasa sederhana, tetapi begitu dalam.

Jamaah seperti diajak untuk kembali melihat keberadaan madrasah di Desa Kalipoh dari sudut pandang yang lebih luas. Bahwa madrasah yang selama ini ada di tengah-tengah masyarakat bukan sekadar bangunan atau tempat anak-anak bersekolah, tetapi merupakan warisan perjuangan, ladang amal, dan investasi kebaikan untuk generasi yang akan datang.

Peringatan Maulid Nabi kali ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar acara seremonial. Ia menjadi ruang untuk mempertemukan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Masa lalu diwakili oleh kisah perjuangan para pendiri dan guru yang telah mengabdikan hidupnya. Masa kini hadir melalui para guru, orang tua, jamaah, serta siswa yang terus menghidupkan madrasah. Sementara masa depan berada di tangan anak-anak yang hari ini tampil di atas panggung dengan penuh percaya diri.

Di sinilah makna tema “Merawat Tradisi, Meneladani Nabi” menemukan ruhnya.

Tradisi Maulid dirawat bukan sekadar agar tetap ada, tetapi agar nilai-nilai di dalamnya terus hidup. Keteladanan Rasulullah dikenalkan bukan hanya melalui cerita, tetapi diwujudkan dalam akhlak, ibadah, semangat belajar, dan kepedulian terhadap sesama.

Dan madrasah dihidupkan bukan hanya dengan kegiatan belajar mengajar, tetapi dengan kebersamaan seluruh elemen masyarakat yang merasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap keberlangsungannya.

Kehadiran kembali KH. Damiri, B.A. pada peringatan Maulid Nabi ini menjadi pengingat bahwa setiap madrasah memiliki sejarah dan orang-orang yang pernah berjuang di belakangnya.

Ada nama-nama yang mungkin tidak selalu tertulis dalam papan nama sekolah, tetapi jasanya melekat dalam setiap langkah perjalanan madrasah. Ada guru yang telah menghabiskan puluhan tahun hidupnya untuk mengajar. Ada tokoh yang menyumbangkan gagasan. Ada masyarakat yang memberikan tenaga. Ada orang tua yang mendukung. Ada para pendahulu yang berjuang dengan segala keterbatasan.

Dan hari ini, generasi penerus mendapatkan amanah untuk melanjutkan semuanya. Apa yang telah dirintis oleh para pendahulu jangan sampai berhenti di tangan kita.

Sebaliknya, mari kita rawat, kita hidupkan, dan kita kembangkan agar madrasah terus menjadi tempat tumbuhnya generasi yang berilmu, beriman, berakhlak, mencintai tanah air, serta siap membangun peradaban bangsa.

Peringatan Maulid Nabi PAUD–RA–MI–MTs Sultan Agung Kalipoh pun meninggalkan pesan yang begitu kuat: merawat tradisi berarti menjaga warisan kebaikan, meneladani Nabi berarti meneruskan perjuangan, dan menghidupkan madrasah berarti menanam amal yang manfaatnya dapat terus mengalir dari generasi ke generasi.

Semoga semangat Maulid Nabi tahun ini tidak berhenti ketika panggung dibongkar dan acara selesai. Semoga ia tetap hidup dalam keseharian dalam shalat berjamaah, dalam akhlak, dalam semangat belajar, dalam kepedulian kepada madrasah, dan dalam perjuangan bersama membangun generasi yang berkarakter dan berperadaban.

Karena madrasah hari ini adalah buah dari perjuangan para pendahulu, dan madrasah masa depan adalah amanah yang harus kita perjuangkan bersama.

Bagikan berita ini

Sebarkan informasi madrasah kepada wali murid dan masyarakat.

Berita Lainnya

Berita Terkait

Informasi dan kegiatan terbaru lainnya dari MI Sultan Agung 1 Kalipoh.

Menjemput Berkah di Hari Jumat melalui Gerakan Jumat Berseri di MI Sultan Agung 1 Kalipoh
Kegiatan Madrasah 98
Menjemput Berkah di Hari Jumat melalui Gerakan Jumat Berseri di MI Sultan Agung 1 Kalipoh

Menjemput Berkah di Hari Jumat melalui Gerakan Jumat Berseri di MI Sultan Agung 1 Kalipoh

18 Sep 2026 Baca
Dari Lapangan Manunggal, Semangat Kemerdekaan Menggema: MI Sultan Agung 1 Kalipoh Peringati HUT RI ke-81
Kegiatan Madrasah 157
Dari Lapangan Manunggal, Semangat Kemerdekaan Menggema: MI Sultan Agung 1 Kalipoh Peringati HUT RI ke-81

Dari Lapangan Manunggal, Semangat Kemerdekaan Menggema: MI Sultan Agung 1 Kalipoh Peringati HUT RI ke-81

18 Aug 2026 Baca
Menempa Ketangguhan di Pesisir Selatan: MI Sultan Agung 1 Kalipoh Ikuti Galang Tangguh Kwartir Ranting 04 Ayah
Kegiatan Madrasah 139
Menempa Ketangguhan di Pesisir Selatan: MI Sultan Agung 1 Kalipoh Ikuti Galang Tangguh Kwartir Ranting 04 Ayah

Menempa Ketangguhan di Pesisir Selatan: MI Sultan Agung 1 Kalipoh Ikuti Galang Tangguh Kwartir Ranting 04 Ayah

15 Aug 2026 Baca