Makna Refleksi Tahun Baru Hijriyah bagi Seorang Pendidik
Makna Refleksi Tahun Baru Hijriyah bagi Seorang Pendidik
oleh Yasir, M.Pd
Pertama kali yang ada dalam benak kita ketika mendengar tahun baru masehi adalah identik dengan bunyi petasan, bergadang menunggu pergantian malam, ada yang diisi dengan hiburan, ada yang diisi dengan bakar-bakar, dan liburan bersama keluarga. Hampir semua orang merayakannya.
Namun sedikit sekali yang terbayang dalam benak kita ketika mendengar tahun baru hijriyah, karena tahun baru hijriyah sedikit yang merayakannya. Di beberapa masjid dan mushola sering diisi dengan istighosah atau pengajian. Namun tidak semua orang merayakannya sehingga tidak begitu familiar.
Tahun baru hijriyah dihitung atau dimulai sejak Nabi Muhammad Hijrah dari Mekah ke Madinah. Peristiwa hijrah nabi menjadi peristiwa bersejarah yang memiliki makna yang sangat dalam dari generasi ke generasi. Hijrah tidak hanya berpindah dari seuatu tempat ke tempat lain, tapi bisa diartikan juga berpindah dari hal-hal yang tidak/belum baik menuju hal-hal yang baik.
Bagi seorang pendidik tahun baru hijriyah memiliki makna tersendiri. Ada banyak sifat yang perlu dihindari sebagai seorang pendidik. Menurut Bestari Laia dkk dalam bukunya yang berjudul Collection of Student Perspectives on the Teaching Profession in the Classroom (diterbitkan oleh CV Jejak tahun 2023) beliau mengatakan bahwa ada 12 sifat guru yang tidak disukai oleh siswa.
Pertama, guru tidak menguasai materi. Kedua, jarang masuk. Ketiga, berpakaian tidak rapi (norak). Keempat, berkata kasar. Kelima, memberikan tugas rumah atau PR tanpa diperika. Keenam, menghukum semena-mena. Ketujuh, pilih kasih (tidak adil). Kedelapan, cuek di dalam kelas maupun di luar kelas. Kesembilan, tidak memberikan contoh yang baik. Kesepuluh, kaku (tidak humoris). Kesebelas, suka membanding-bandingkan. Kedua belas, tidak mau peduli dengan siswa.
Tahun baru hijriyah menjadi momentum untuk berubah. Jika kita sebagai seorang pendidik memiliki salah satu dari 12 sifat di atas agar segera berhijrah ke sifat yang lebih baik. Bisa dibayangkan jika seorang pendidik (guru) tidak menguasai materi yang akan diajarkan, maka tujuan pembelajaran jadi tidak tersampaikan secara sempurna. Maka dari itu, selayaknya sebagai seorang guru harus lebih mempersiapkan diri sebelum masuk kelas.
Kedisiplinan adalah pondasi yang sangat penting dalam segala hal. Jika seorang guru mempraktekan tidak disiplin maka kondisi kelas pasti akan kacau. Sudah waktunya masuk belum datang bahkan tidak masuk maka ada banyak kemungkinan yang terjadi di dalam kelas. Siswa menjadi ramai, suasana kelas tidak kondusif bahkan mungkin bisa terjadi perkelahian atau pembulian. Itu semua disebabkan oleh ketidak disiplinan seorang guru.
Tidak kalah penting dari kedisiplinan adalah kerapian. Sudah menjadi kodrat manusia mencintai yang indah-indah dan rapih. Begitu juga siswa sangat mengidolakan guru yang rapih. Penampilan seorang guru akan menunjukan kewibawaan tersendiri. Ada pepatah jawa yang mengatakan ajine rogo soko busono (nilai fisik atau penampilan seseorang dinilai dari pakaian yang dikenakannya). Tidaklah pantas seorang guru berpenampilan tidak rapih, dalam momen-momen resmi memakai kaos oblong, tidak bersepatu, akan tetapi muridnya diminta memakai seragam rapih sedangkan guru itu sejatinya menjadi tauladan bagi murid-muridnya.
Guru juga memiliki senjata yang luar biasa yaitu mulut. Jika mulut digunakan dengan bijaksana untuk menasehati, membimbing, memberi motivasi dan memberikan sentuhan batin maka siswa akan ingat sampai tua nanti. Namun sebaliknya jika mulut digunakan dengan tidak bijak, bisa melukai hati. Jika lidah melukai hati, susah hilangnya. Siswa akan tidak nyaman, lebih bahaya lagi siswa mengikuti gurunya menggunakan kata-kata yang kasar dalam pergaulan. Maka dari itu, pandai-pandailah dalam memilih kata, dan gunakanlah mulut kita dengan bijak agar lebih manfaat.
Hal yang paling menyebalkan adalah saat kita tidak dihargai. Siswa akan merasa tidak dihargai jika mereka diberi tugas, sudah dikerjakan sepenuh hati sudah mengorbankan waktu main mereka, waktu bersama keluarga mereka. Namun saat di sekolah guru cuek tidak pernah menanyakan hasil kerjaan mereka.
Lebih menyebalkan lagi jika mereka berbuat salah, guru menghukumnya dengan seenak hatinya sendiri tidak mengacu pada peraturan-peraturan sekolah yang ada padahal setiap hukuman ada tahapannya. Dimulai dari peringatan lisan, tertulis hingga tindakan yang mendidik.
Setiap siswa memiliki karakter bawaan masing-masing. Ada yang penurut, ada yang suka membantah, ada yang cepat bisa menangkap pelajaran ada juga yang lambat dalam menangkap pelajaran. Seorang guru harus bisa berbuat adil kesemua siswa. Jika hanya menyayangi yang penurut saja, atau siswa yang pintar saja maka akan menimbulkan kebencian oleh siswa yang lain.
Maka dari itu, bersikap ramah kesemua siswa baik di dalam kelas maupun di luar kelas adalah menjadi keharusan bagi seorang guru, karena tugas guru tidak hanya mengajar tapi mendidik dan yang terpenting lagi memberi tauladan (contoh). Jika guru sudah bisa menjadi contoh tidak harus banyak bicara siswa akan mengikuti perbuatan baik atau aturan-aturan yang dilaksanakan oleh guru.
Rasa humor adalah bumbu-bumbu dalam pergaulan. Jika seorang guru memiliki selera humor yang baik dan mendidik maka besar kemungkinan akan dicintai oleh murid-muridnya. Namun jika tidak memilikinya maka tidak memiliki kesan yang mendalam di benak siswa. Apalagi kalau suka membanding-bandingkan. Setiap orang punya kekurang dan kelebihannya masing-masing, jadi tidak ada yang mau disbanding-bandingkan.
Itu harus dipahami oleh seorang guru. Jika guru tidak mau peduli dengan perasaan murid-muridnya maka besar kemungkinan murid-muridnya juga akan susah memahami apa yang disampaikan oleh gurunya. Semua saling terkait dan berhubungan.
Maka dari itu momentum tahun baru hijriah ini kita jadikan sebagai momentum untuk berubah menjadi guru yang baik, yang dicintai, disayangi dan dihargai oleh siswanya dan juga segenap sivitas akademika di mana kita bekerja dan berjuang.